Limbah kulit durian yang selama ini dibuang begitu saja kini mulai dimanfaatkan warga Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Kulit durian diolah menjadi serat yang dimanfaatkan sebagai bahan isian bantal, gantungan kunci, hingga media tanam, sementara bagian lain dari buah durian diolah menjadi keripik kulit durian, basreng biji durian, dan dodol durian.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Alasmalang, Roniyah, mengatakan "inovasi ini bermula dari melimpahnya limbah kulit durian yang dihasilkan warga saat musim panen tiba. Ia menuturkan hal tersebut saat ditemui di Pusat Edukasi Pengolahan Limbah Kulit Durian Desa Alasmalang", Rabu (19/8/2026), sembari menekankan bahwa limbah yang tadinya tidak bernilai kini justru mendatangkan pemasukan bagi warga.
Proses pengolahan dimulai dengan mencacah kulit durian yang terkumpul hingga menjadi serat, lalu dikeringkan agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk sebagai bahan isian bantal dan gantungan kunci yang dijual seharga Rp10.000 per buah. Produk-produk suvenir ini umumnya dibeli oleh wisatawan yang berkunjung ke desa yang dikenal sebagai sentra durian di Banyumas tersebut.
Selain untuk kerajinan, pengolahan serat kulit durian juga dikembangkan untuk kebutuhan lain, seperti media tanam dan bahan penyerap minyak (oil absorbent) yang dipasok ke PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, Kabupaten Cilacap. Bagian dalam kulit durian yang berwarna putih diolah dan dicampur tepung serta bumbu untuk menjadi keripik renyah seharga Rp15.000 per kemasan 250 gram.
Durian dengan kualitas rendah atau grade C yang sebelumnya berpotensi terbuang kini diolah menjadi dodol durian seharga Rp80.000 per kilogram, sementara biji durian dimanfaatkan menjadi camilan basreng biji durian seharga Rp20.000. Roniyah menambahkan, seluruh produk olahan limbah durian tersebut dipasarkan melalui outlet milik kelompok warga maupun lewat marketplace.